Angin berhembus pelan.. Menerpa rambut jambulku yang sudah melengkung ini...
Lalu aku memejamkan mata.. Aku bertemu denganmu.. Ya.. Si Danbo Labil..
Kusempatkan mengobrol denganmu walau hanya saling menyapa..
"Hai.." sapaku.
"Hai juga.. Ada masalah apa lagi bro? kok kayaknya kamu lemes gitu?"
"Enggak ada.. Cuman aku bingung banget.." aku mulai bercerita.
"Bingung ? Ada apa?" kamu selalu ingin tau.
"Mungkin kamu tak perlu tau, tapi aku akan ceritakan padamu" kamu tersenyum.
"Begini.. Menurutmu pintar itu berguna gak sih?" aku mulai bertanya.
"Ya perlu banget lah.. Emang kamu gak pengen pinter apa?"
"Bukan itu maksudku" aku membantah keras.
"Lalu?" kamu tampak kebingungan.
"Bagaimana jika kepintaran itu membuat kita angkuh? Bagaimana jika kepintaran itu membuat kita merasa paling pintar? Dan bagaimana jika kepintaran itu membuat teman teman kita menjauhi kita?"
Kamu berhenti sejenak. Mengangkat kedua alismu. "Tak semua kepintaran itu membuatmu angkuh" jelasmu.
"Maksudmu?" tanyaku heran
"Iya. Jika mereka masih angkuh mereka pasti orang yang bodoh" terangmu sambil tersenyum.
"Aku tak paham maksudmu" aku semakin bingung.
"Iya mereka butuh dari sekedar kepintaran materi dan pelajaran seperti itu. Apa kau ingin tau?" tanyamu balik.
"Iya. Apa itu?" aku bersemangat.
"Kepintaran dalam mengendalikan kesombongan" kamu melipat kedua tanganmu.
Aku tersenyum. "Jadi pintar saja tidak menjamin kita pintar? Jadi kita harus pintar dalam mengendalikan kesombongan untuk menjadi orang yang pintar sesungguhnya?"
Kamu mengangguk pelan.
"Teng Teng Teng Teng Teng" suara lonceng masuk kelas berbunyi. Kamu segera masuk kedalam tasku. "Makasih ya nasihatnya" aku tersenyum. Kamu tersenyum. Memang kamu selalu tersenyum.
Danbo aja bisa kenapa kamu tidak?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar