"Kamu gimana sih? Jangan lari lari dong!" bentak Danbo.
"Maaf maaf.. Duduk dulu yuk.." ajakku sambil mengembalikan Danbo ke dalam tasku kembali.
Aku menuju sebuah kursi taman yang kosong di ujung jalan. Aku duduk disitu sembari istirahat. Kukeluarkan Danbo dari tasku.
"Hai? Kamu masih marah?" tanyaku.
"Tidak. Siapa yang marah?" jawab Danbo dengan ketus.
"Udahlahh.. Eh aku mau cerita nih"
"Mau cerita apa?" Danbo kembali berdiri.
"Sepanjang jalan tadi kok rumahnya bagus bagus ya bo?" kataku sambil bersandar di kursi.
"Namanya juga perumahan elit, ya wajar dong kalo besar" jawab Danbo dengan mudah.
"Kenapa aku belum punya rumah seperti itu ya?" aku berandai andai.
"Apa kamu akan bahagia dengan rumah besar seperti itu?" tanya Danbo membingungkan.
"Memangnya kenapa?" aku mulai bingung.
"Kamu gak lihat pagar pagar besi yang tinggi itu? Selalu tertutup rapat"
"Lalu kenapa?"
"Mungkin kamu tidak akan bisa duduk dibawah pohon yang rindang ini bersamaku"
"Apa itu yang dilakukan orang kaya?" tanyaku
"Aku tak tau. Mungkin saja."
"Kamu benar, mungkin aku tak bisa bahagia dengan kehidupan mewah seperti itu" jawabku sambil tertunduk lesu.
"Kebahagiaan itu relativ. Mungkin orang yang tinggal didalam rumah itu merasa bahagia dengan kehidupan mewah seperti itu"
Aku mengangguk pelan. Sambil terus memperhatikan Si Danbo Labil.
"Aku tau duniamu, aku juga tau sifat sifatmu, kamu mungkin tidak akan bahagia dengan tempat tinggal yang penuh dengan aturan" Danbo bertingkah layaknya motivator handal.
"Sotoy kamu.." aku meledeknya.
"Yee Tapi emang bener kan?"
"Iya bo, Aku sudah bahagia dengan kehidupan sederhanaku. Dan mungkin aku nggak bisa bahagia dengan hidup mewah kayak gitu" kataku.
"Yaudah sekarang ayo pulang ke gubuk reotmu.." kata Danbo mengejekku.
"Sialan kamu! Awas ya! Malam ini kamu gak boleh tidur di istanaku" aku berbangga.
"Istana reot? Hahaha" Danbo tertawa.
"Sialan kamu!" aku berlari meninggalkan Danbo.
Danbo mengejarku. Dia tampak kelelahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar