Minggu, 05 Agustus 2012

Berbohong Untuk Motivasi

  Suatu saat di kelas. Saat pembagian nilai ulangan kemarin. Aku gugup. Sangat gugup. Melihat hasil teman temanku yang baik, aku sekarang menjadi lebih tenang. Meskipun rasa gugupku belum hilang total. Kini giliranku. Aku maju dengan langakah pasti. Aku terima kertas ulangan itu. Sempat terlihat muka pak guru menyeringai. Aku hanya tersenyum. Aku tak berani melihat hasilnya sekarang.

  Waktu istirahat...

"Siaalll Nilai 7 lagiii!!!" aku sempat berteriak di tempat favoritku di sekolah. Tepi kolam.

"Ga jelek jelek amat kan?" kata Danbo yang tiba tiba keluar dari tasku.

"Udah 9 kali aku dapet nilai 7 bo! Apa kata mama nanti?" aku menggertak.

"Kan belum yang ke 10?" ejek Danbo.

"Serius lah Danbo, aku takut dimarahi mama nanti.." aku mulai merengek.

"Bilang aja nilai kamu 10.." jawab Danbo asal asalan.

"Mana bisa begitu!? Nilaiku kan 7!"

"Bohong itu perlu.." kata Danbo pelan.

Aku terdiam sesaat. Aku tak mengerti maksud Danbo.

"Maksudmu? Untuk apa kebohongan itu?" aku sangat penasaran.

"Kamu bohong sama mama kamu buat buktiin kamu bisa dapet nilai 10!" kata Danbo sambil menunjukku.

"Maksudmu? Aku tak terlalu paham" aku mulai bingung.

"Ahhh.. Makanya kamu dapet 7.. Maksudku begini, kamu bilang aja kamu dapet nilai 10, lalu jika mama kamu minta buktinya, kamu harus bisa buktikan di ulangan berikutnya gitu.." kata Danbo.

"Caranya?"

"Ya belajar dong! Kamu harus berusaha untuk dapetin nilai 10! itu tanggung jawabmu! Dan kebohonganmu menjadi janjimu!" Danbo menjelaskan.

Aku mengangguk pelan. Aku mengerti yang dikatakan Danbo. Nanti sepulang sekolah aku katakan pada mama. NIlai ulanganku 10. Danbo masuk kembali kedalam tasku setelah bel masuk berbunyi.


Sabtu, 04 Agustus 2012

Kekayaan Bukan Jaminan

  Aku berlari lari di area komplek perumahan dekat sekolahku. Tanpa sadar Si Danbo Labil terjatuh di pinggir jalan. Aku segera mengambilnya kembali.

"Kamu gimana sih? Jangan lari lari dong!" bentak Danbo.

"Maaf maaf.. Duduk dulu yuk.." ajakku sambil mengembalikan Danbo ke dalam tasku kembali.

  Aku menuju sebuah kursi taman yang kosong di ujung jalan. Aku duduk disitu sembari istirahat. Kukeluarkan Danbo dari tasku.

"Hai? Kamu masih marah?" tanyaku.

"Tidak. Siapa yang marah?" jawab Danbo dengan ketus.

"Udahlahh.. Eh aku mau cerita nih"

"Mau cerita apa?" Danbo kembali berdiri.

"Sepanjang jalan tadi kok rumahnya bagus bagus ya bo?" kataku sambil bersandar di kursi.

"Namanya juga perumahan elit, ya wajar dong kalo besar" jawab Danbo dengan mudah.

"Kenapa aku belum punya rumah seperti itu ya?" aku berandai andai.

"Apa kamu akan bahagia dengan rumah besar seperti itu?" tanya Danbo membingungkan.

"Memangnya kenapa?" aku mulai bingung.

"Kamu gak lihat pagar pagar besi yang tinggi itu? Selalu tertutup rapat"

"Lalu kenapa?"

"Mungkin kamu tidak akan bisa duduk dibawah pohon yang rindang ini bersamaku"

"Apa itu yang dilakukan orang kaya?" tanyaku

"Aku tak tau. Mungkin saja."

"Kamu benar, mungkin aku tak bisa bahagia dengan kehidupan mewah seperti itu" jawabku sambil tertunduk lesu.

"Kebahagiaan itu relativ. Mungkin orang yang tinggal didalam rumah itu merasa bahagia dengan kehidupan mewah seperti itu"

Aku mengangguk pelan. Sambil terus memperhatikan Si Danbo Labil.

"Aku tau duniamu, aku juga tau sifat sifatmu, kamu mungkin tidak akan bahagia dengan tempat tinggal yang penuh dengan aturan" Danbo bertingkah layaknya motivator handal.

"Sotoy kamu.." aku meledeknya.

"Yee Tapi emang bener kan?"

"Iya bo, Aku sudah bahagia dengan kehidupan sederhanaku. Dan mungkin aku nggak bisa bahagia dengan hidup mewah kayak gitu" kataku.

"Yaudah sekarang ayo pulang ke gubuk reotmu.." kata Danbo mengejekku.

"Sialan kamu! Awas ya! Malam ini kamu gak boleh tidur di istanaku" aku berbangga.

"Istana reot? Hahaha" Danbo tertawa.

"Sialan kamu!" aku berlari meninggalkan Danbo.

Danbo mengejarku. Dia tampak kelelahan.






Memintari Kepintaran

   Suatu hari ditepi kolam yang luas...
Angin berhembus pelan.. Menerpa rambut jambulku yang sudah melengkung ini...
Lalu aku memejamkan mata.. Aku bertemu denganmu.. Ya.. Si Danbo Labil..
Kusempatkan mengobrol denganmu walau hanya saling menyapa..

"Hai.." sapaku.

"Hai juga.. Ada masalah apa lagi bro? kok kayaknya kamu lemes gitu?"

"Enggak ada.. Cuman aku bingung banget.." aku mulai bercerita.

"Bingung ? Ada apa?" kamu selalu ingin tau.

"Mungkin kamu tak perlu tau, tapi aku akan ceritakan padamu" kamu tersenyum.

"Begini.. Menurutmu pintar itu berguna gak sih?" aku mulai bertanya.

"Ya perlu banget lah.. Emang kamu gak pengen pinter apa?"

"Bukan itu maksudku" aku membantah keras.

"Lalu?" kamu tampak kebingungan.

"Bagaimana jika kepintaran itu membuat kita angkuh? Bagaimana jika kepintaran itu membuat kita merasa paling pintar? Dan bagaimana jika kepintaran itu membuat teman teman kita menjauhi kita?"

Kamu berhenti sejenak. Mengangkat kedua alismu. "Tak semua kepintaran itu membuatmu angkuh" jelasmu.

"Maksudmu?" tanyaku heran

"Iya. Jika mereka masih angkuh mereka pasti orang yang bodoh" terangmu sambil tersenyum.

"Aku tak paham maksudmu" aku semakin bingung.

"Iya mereka butuh dari sekedar kepintaran materi dan pelajaran seperti itu. Apa kau ingin tau?" tanyamu balik.

"Iya. Apa itu?" aku bersemangat.

"Kepintaran dalam mengendalikan kesombongan"  kamu melipat kedua tanganmu.

Aku tersenyum. "Jadi pintar saja tidak menjamin kita pintar? Jadi kita harus pintar dalam mengendalikan kesombongan untuk menjadi orang yang pintar sesungguhnya?"

Kamu mengangguk pelan.

   "Teng Teng Teng Teng Teng" suara lonceng masuk kelas berbunyi. Kamu segera masuk kedalam tasku. "Makasih ya nasihatnya" aku tersenyum. Kamu tersenyum. Memang kamu selalu tersenyum.

 
Danbo aja bisa kenapa kamu tidak?